TRADISI DAN POLA PIKIR MASYARAKAT TELAGA SARANGAN DITENGAH MODERNISASI
TRADISI DAN POLA PIKIR
MASYARAKAT TELAGA SARANGAN DITENGAH MODERNISASI
Ardhi Kurniawan
Pendidikan Seni Program
Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
I.
LATAR BELAKANG
MASALAH
Indonesia memiliki berjuta potensi dan kekayaan sumber alam dan manusianya.
Tak heran wilayah indonesia menjadi incaran bagi negara-negara lain yang yang
inign memperluas daerah kekuasannya. Beberapa negara yang pernah singgah dan menetap
di Indonesai selama berpuluh-puluh tahun bahkan beberapa abad lamanya antara
lain India, Eropa, China dan Jepang. Kedatangan mereka tampaknya membawa
pengaruh yang besar terhadap sosial dan budaya Indonesia. Beberapa sistem kepercayaan
dalam bentuk Agama seperti, Hindu, Budha, Kristen dan Islam muncul sebagai
dampak dari kedatangan mereka. Selain memperluas jajahan dan berdagang, kedatangan
bangsa pendatang ini membawa misi keagamaan.
Setelah bangsa-bangsa pendatang ini masuk, munculah agama-agama yang higga
sekarang ini ada dan berkembang di Indonesia. dapat diasumsikan bahwa sebelum
masuknya mereka sistem kepercayaan masyarakat Indonesia belum ada. Yang ada
hanyalah sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Dimana dalam kepercayaan ini percaya bahwa dalam sebuah
benda-benda alam terdapat roh/ kekuatan yang mampu melindungi masyarakatnya
dari marabahaya dan malapetaka. Selain itu percaya adanya roh nenek moyang yang
sudah meninggal dan akan menetap di tempat-tempat tertentu dan mampu menyelesaikan
seluruh masalah-masalah bagi yang mempercayainya.
Bahkan menurut Agusto Compte yang diuraikan oleh Sutiyono, bahwa terdapat
tiga tahapan pemikiran manusia yaitu percaya pada kekuatan supranatural/mistis,
metafisika, dimana bukan kekuatan supranatural yang menggerakan melainkan alam,
dan tahapan positivisme, dimana manusia tidak lagi mengkaitkan segala sesuatu
terjadi secara mistis, dan metafisika. (Sutiyono, 1980). Pada saat muncul sistem kepercayaan animisme dan
dinamisme tersebut, mayarakat Indonesia pada saat itu berada pada tahapan
supranatural/mistis.
Dari struktur alam yang ada di Indonesai dapat kita lihat, banyak sekali
tempat-tempat eksotis yang terjadi secara alami/bukan buatan manusia. Misalnya
goa, gunung, pohon besar, danau/ telaga, pantai, dan tempat-tempat lainnya.
Hasil aktivitas alam ini diyakini oleh masyarakat Indonesia yang masih
mempercayai animisme dan dinamisme memiliki kekuatan bahkan dianggap memiliki
cerita-cerita terbentuknya tempat tersebut. Akhirnya munculah cerita-cetita/dongeng
tentang terjadinya suatu tempat. Cerita-cerita ini menjadi simbol yang
terus-menerus diyakini kebenarannya dan dihidupi oleh masyarakatnya sehingga
tampak menjadi simbol yang nyata.
Keyakinan ini mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat yang
mempercayainya. Kelangsungan hidup masyarakat sangat bergantung pada kebenaran
dari sebuah cerita legenda. Hingga pada tingkat jika tidak mengagungkan dan
menaati aturan-aturan dari kebenaran tersebut, maka masyarakat akan celaka.
Kebenaran tersebut menjadi sumber dari segala sumber penghidupan masyarakatnya
seperti perlindungan, rejeki, jodoh, kesehatan, kekuatan yang menjadi otoritas
hidup mereka. Otoritas ini dianggap mampu menyelesaikan segala permasalahan
sosial yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakatnya.
Sebagai rasa syukur, diberilah sesembahan/sesaji untuk otoritas tersebut.
Biasanya berupa bunga, hasil alam, kemenyan, dupa, dan lain-lain. Jika hal ini
tidak dilakukan/ lupa melakukannya, akan menimbulkan bencana besar yang melanda
seluruh masyarakat yang mempercayainya. Dan jika ada bencana alam besar melanda
masyarakatnya, mereka percaya bahwa ada kesalahan/ ketidak taatan dari masyarakatnya.
Sebagai contoh yang akan diulas dalam makalah ini adalah legenda tentang
Telaga Sarangan, yang terletak di Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Sebuah telaga yang memiliki cerita/ legenda yang menjadi kepercayaan masyarakatnya,
mempengaruhi seluruh aspek keberlangsungan secara individu dan sosial masyarakat
sekitar. Kisah terbentuknya telaga ni menjadi simbol dan identitas yang terus
dihidupi dan dipercayai masyarakatnya secara turun-temurun hingga kini.
Cerita/ kisah Telaga Sarangan sebagai simbol dan indentitas semakin lama
dilupakan. Simbol ini sudah dikesampingkan keberadannya dan tergeser dengan
pemaknaan lain terhadap simbol ini. orang-orang tertentu saja yang mengetahui
cerita-cerita yang menjadi mitos mengenai asal-muasal terbentuknya telaga ini. Tanpa
disadari simbol-simbol yang merupakan identitas dari sebuah daerah/ tempat yang
berupa mitos-mitos merupakan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Dari
cerita-cerita itulah muncul berbagai budaya-budaya lokal yang kaya akan kearifannya.
Dari situlah muncul bagaimana cara masyarakat pada kala itu bertahan hidup
menghadapi alam, sosial dan kebutuhan pokok mereka sehingga menciptakan kebudayaan-kebudayaan
yang akhirnya menjadi ciri khas.
II.
KAJIAN TEORITIK
Telaga Sarangan
Telaga Sarangan, merupakan sebuah telaga yang terbentuk
secara alami di pegunungan Lawu, terletak di daerah Sarangan, Kabupaten
Magetan, Jawa Timur. Telaga ini sebenarnya memiliki nama Telaga Pasir, hanya
karena keberadaannya terletak di daerah Sarangan, maka orang sering menyebutnya
Telaga Sarangan. Telaga ini digunakan sebagai sumber pengairan bagi sawah di
desa-desa sekitarnya. Setiap kali ada permintaan air, petugas membuka pintu air
untuk mengalirkan air dari Telaga ini untuk memenuhi pasokan air bagi sawah
yang kekurangan air. Selain fungsinya sebagai sumber pengairan, kini tempat ini
menjadi salah satu destinasi wisata dari Kabupaten Magetan yang menarik banyak
pengunjung dari lokal maupun mancanegara. Keindahan alam yang sejuk, asli, dan
penuh dengan ketenangan, membuat pesona kawasan wisata ini menjadi semakin
diminati banyak orang.
Namun siapa sangka dibalik
eksotisnya pemandangan di Telaga ini, terdapat kisah yang menjadi legenda
terbentuknya Telaga sarangan. Berikut cerita terciptanya Telaga sarangan yang
dipercayai oleh masyarakatnya sebagai kebenaran yang terkadang diluar nalar dan
akal manusia. Cerita ini diambil dari cerita versi Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME
dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Telaga Sarangan terletak di lereng sebelah
timur pegunungan Lawu, berbatasan langsung dengan destinasi wisata di kawasan
Tawangmangu Karanganyar, Jawa Tengah. Hawanya dingin, berkisar antara 18-25
derajat Celsius, karena terletak di ketinggian 1200 m diatas permukaan air
laut. Dengan lingkungan hutan yang masih asli, ditandai dengan banyaknya
monyet-monyet liar di sekitar area telaga. Telaga ini mempunyai luas sekitar 30
hektare, dengan kedalaman lebih dari 28 m. Di tengah telaga, terdapat sebuah
pulau kecil yang masyarakat sekitar menyebutnya Pulau Putri/ pulau sangoro. Tak
jauh dari pintu masuknya, terdapat sebuah semacam monumen kecil, terdapat
sebuah gunungan yang dikiri dan kanannya masing-masing terdapat sebuah patung
naga. Patung nada inilah yang menjadi ikon cerita dari terbentuknya Telaga
Sarangan.
Menurut penuturan mbah Sastro
dalam buku ini dikisahkan di daerah ini pada mulanya hiduplah sepasang suami
istri yang bernama Kyai Pasir dan Nyi Pasir. Mereka tinggal di sebuah rumah
sederhana terbuat dari kayu dengan beratapkan dedaunan, di lereng Gunung Lawu.
Sangat sederhana namun hidup mereka damai dan sejahtera. Mereka merasa aman dan
nyaman tinggal disana tanpa takut ada bahaya alam dan serangan binatang buas
yang setiapsaat bisa datang menghampiri mereka. Sumber penghidupan dan
penghasilan mereka berasal dari hasil bercocok tanam dan berladang. Hasil bumi
di daerah itu sangat melimpah, sayuran, buah-buahan seperti strobery, sangat
melimpah.
Hingga suatu hari, Kyai Pasir
sedang merladang untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Dia membuka lahan
di hutan untuk tempat dia bercocok tanam dan berladang. Kyai Pasih harus
menebang beberapa pohon dihutan untuk dijadikan sebagai lahan bercocok tanam. Setelah
beberapa pohon ditebang, kemudian Kyai Pasir harus membersihkan ilalang dan
semak-semak yang dapat mengganggu tanaman yang akan dia tanam. Suatu saat ketika
dia sedang membuka lahan baru untuk tempat bercocok tanam, dia menemukan sebutir
telur di bawah batang pohon yang dia tebang. Telur itu mirip sekali dengan
telur ayam dari segi ukuran dan bentuknya. Dia pun berpikir pastinya ada unggas
disekitar area tersebut dan menunggunya siapa tahu datang untuk menetaskan
telurnya. Kyai Pasir pun menunggu sambil menyelesaikan pekerjaannya membuka lahan
bercocok tanamnya. Setelah ditunggu beberapa lama, tak seekor unggaspun yang
dia lihat. Alhirnya Kyai Pasir membawa telur itu pulang kerumahnya.
Sesampainya dirumah, Kyai Pasir
memberikan telur tersebut pada istrinya dan menceritakan penemuan telur tersebut
pada istrinya. Lama sekali mereka hanya memandangi telur tersebut yang mereka
letakan diatas meja. Nyai Pasir juga merasa heran. Tidak pernah sekalipun Kyai
Pasir pulang dengan membawa telur seusai meladang di hutan. Karena keadaan meraka
yang sangat sederhana, sayur dan lauk-pauk mereka dapatkan dari hasil hutan, akhirnya
Nyai Pasir merebus telur tersebut untuk dijadikan lauk yang kebetulan mereka
sedang tidak punya lauk untuk dimakan. Setelah masak, Nyai Pasir membelah telur
tersebut menjadi dua bagian untuk mereka makan. Sembari makan muncul harapan di dalam benak
Nyai Pasir supaya setiap hari suaminya, Kyai Pasir mendapatkan telur sebagai
lauk pauk mereka. Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, Kyai Pasir kembali
melanjutkan pekerjaannya menebang pohon dihutan dan bercocok tanam.
Tidak terjadi hal yang aneh dan
janggal pada awalnya. Semua baik-baik
saja. Telur yang dimakan Kyai Pasir dan istrinya tidak berdampak buruk bagi
tubuh mereka. Hingga suatu ketika, secara tiba-tiba tubuh Kyai Pasir terasa
panas, seluruh urat dan persendiannya kaku dan terasa gatal. Tubuhnya menggigil
mengeluarkan keringat dingin, matanya berkunang-kunang, wajahnya tampak pucat.
Kyai Pasir pun tak kuasa menahannya, hingga dia rebah dan berguling-guling
diatas tanah, sehingga membentuk sebuah cekungan. Secara perlahan tubuh Kyai
Pasir berubah menjadi seekor naga yang besar sekali. Begitu juga yang terjadi
dengan Nyai Pasir. Dia merasakan hal yang sama dengan suaminya. Karena takut, Nyai
Pasirpun datang bermaksud menghampiri suaminya dd ladang. Namun dia kaget
ketika melihat suaminya yang sudah berubah wujud menjadi seekor naga yang
besar. Kyai Pasir yang sudah berubah wujud berusaha meyakinkan istrinya bahwa
ia adalah suaminya. Namun tubuh sang istri pun mulai tidak kuat menahan sakit
yang dirasakan. Nyai Pasir pun rebah ke tanah, dan berguling-guling karena
tidak tahan menahan rasa sakitnya. Tak lama kemudian, tubuh Nyai Pasir pun
berubah menjadi seekor naga besar sama seperti Kyai Pasir yang sebelumnya sudah
berubah. Kini dua ekor naga besar berguling-guling lama hingga terbentuklah
sebuah cekungan besar dan dalam yang memunculkan mata air yang terus mengalir.
Cekungan tersebut terus menerus diisi air hingga menjadi telaga yang luas dan
penuh dengan air dari sumber mata air dari dasar telaga tersebut. Dan akhirnya
dua ekor naga tersebut menghilang di dalam dasar kolam besar/ telaga tersebut
dan hingga kini masih dipercayai mereka masih bersembunyi didasar telaga
tersebut.
Banyak muncul berbagai versi
cerita, diantaranya Kyai Pasir dan Nyai Pasir memiliki anak, namun dia adalah
seorang pengembara. Ketika pulang, kaget melihat rumahnya sudah menjadi telaga
yang luas. Dia pun memohon pada Tuhan agar dapat menemukan orang tuanya dengan
cara bertapa hingga mencapai mukso,
yaitu menghilang dan dapat muncul sesekali.
Hingga kini keberadaannya tidak diketahui. Namun masyarakat percaya
bahwa dua naga tersebut masih tinggal didasar telaga tersebut. Ketika hujan
lebat, petir menyambar dan terjadi badai, masyarakat percaya hal itu adalah
kemarahan dari dua sosok naga yang tinggal dalam Telaga. Namun ketika badai
selesai, tampaklah sinar terang dari arah dua pohon yang ada di sisi tenggara
telaga. Pohon itu dipercaya merupakan pohon tempat pertama kali Kyai Pasir
menemukan telur ajaib yang akhirnya merubah dia bersama istrinya menjadi naga
yang besar. Kini pohon tersebut menjadi Punden/
tampat yang dianggap keramat.
Nama telaga tersebut sebenarnya
dalah telaga Pasir, sesuai dengan nama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Namun karena
letaknya di desa Sarangan, maka orang-orang menyebutnya Telaga sarangan. Setiap
setahun sekali, masyarakat sekitar mengadakan upacara ritual berupa sesembahan
sesaji berupa makanan dalam bentuk tumpeng yang dilarung atau dihanyutkan dalam telaga. Hal ini dipercaya dapat
meredam kemarahan naga dan menyelamatkan desa dari bencana. (Nurmayasari, 2017).
Material Kebudayaan
Cerita mengenai Telaga Sarangan ini menjadi sebuah
material budaya bagi masyarakat setempat. Keberadaan material berupa objek
budaya ini mempengarhui seluruh aspek kehidupan masyarakat yang menghidupinya.
Seperti dikutip oleh Pradoko dalam disertasinya, terdapat empat peranan penting
sebuah objek kebudayaan bagi masyarakat yang mempercayai dan menghidupinya. Pertama, penanda nilai. Dalam peranan
ini, material kebudayaan diberi nilai-nilai tertentu oleh masyarakat yang
mempercayainya. Kedua, penanda
indentitas. Objek kebudayaan menjadi identitas dari suatu masyarakat tertentu
di suatu tempat. Tentunya masyarakat disini dimaksudkan adalah masyarakat yang
mempercayai kebenaran dari objek tersebut. Ketiga,
wujud jaringan kekuasaan. Didalam objek kebudayaan tersebut terdapat
jaringa-jaringan kekuasaan yang membentuknya, yang akhirnya akan berpengaruh
kepada masyarakat yang mempercayainya. Keempat,
sebagai wadah mitos. Didalam objek kebudayaan tersabut diberikan pesan-pesan
mitos melalui isi narasi cerita dimana proses pembentukannya melibatkan
kekuasaan tertentu yang ditujukan kepada masyarakat yang mempercayainya yang
disebarkan melalui wacana-wacana. (Pradoko, 2018).
Melihat dari sisi peranannya, cerita terbentuknya Telaga
Sarangan termasuk dalam objek kebudayaan material. Dilihat dari pean yang
pertama yaitu sebagai penanda nilai, cerita terbentuknya Telaga Sarangan diberi
nilai-nilai oleh masyarakatnya, yang akhirnya nilai-nilai tersebut diikuti oleh
masyarakatnya hingga sekarang. Diantaranya pemberian sesaji yang setiap tahun
diberikan berupa larung sesaji tumpeng di Telaga, dimaknai sebagai simbol dari
nilai rasa syukur pada Tuhan atas rejeki dan keselamatan bagi masyarakat yang
mempercayainya.
Dilihat dari peranan yang kedua yaitu sebagai penanda
identitas, Telaga Sarangan pada mulanya adalah Telaga Pasir, namun karena letaknya
di wilayah desa Sarangan, maka disebutlah sebagai Telaga Sarangan. Ini menjadi
identitas dari desa tersebut, dimana orang mengenal desa Sarangan salah satunya
dari sebuah telaga yang ada di wilayah tersebut.
Dilihat dari peranan yang ketiga, wujud jaraingan kekuasaan.
Legenda terbentuknya Telaga Sarangan, berawal dari kisah sepsang suami istri
yang berubah menjadi sosok naga besar, yang menguasai dan mendiami telaga
tesebut. Dua naga ini dipercaya sebagai penguasa di wilayah tersebut.
Peranannya sangat mempengaruhi pola pikir dan kepercayaan masyarakatnya.
Terlihat dari ketaatan dan kepatuhan memberikan sesaji setiap tahun untuk
memberi makan pada naga-naga tesebut agar tidak marah. Karena jika marah, akan
timbul bencana besar bagi masyarakatnya.
Peranan yang keempat, sebagai wadah mitos. Proses
pembentukan Telaga Sarangan diberikan cerita-cerita mitos berupa cerita hidup
Kyai Pasir dan istrinya yang secara ajaib berubah menjadi naga setelah memakan
telur yang ia temukan di hutan. Cerita ini terus dihidupi oleh masyarakatnya
dan menjadi sebuah kebenaran bagi mereka dan mempengaruhi paradigma dan pola pikir
mereka. Kekuasaan yang ada yaitu dua ekor naga yang berdiam di telaga
berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup, keselamatan dan tejeki bagi masyarakatnya.
Alam Pemikiran Masyarakat Jawa
Berbagai macam cerita/ legenda yang muncul di
tengah-tengah masyarakat Jawa pada khususnya menjadi tolak ukur bahwa pada
kemunculannya masa lampau masyarakat Jawa begitu percaya pada hal-hal mistis
dan diluar akal manusia. Sebab-sebab terjadinya sesuatu dipercaya dilakukan
oleh kekuatan lain yang bukan berasal dari manusia, alam dan Tuhan yang pada
waktu itu belum mengenal konsep ketuhanan. Dalam jurnal yang ditulis Sutiyono,
yang menerapkan pemikiran Agusto Compte memaparkan mengenai alam pemikiran
masyarakat Jawa dari masyarakat lampau hingga sekarang ini mengalami tiga
tahapan yaitu mistis/supranatural, metafisika/alam, berkembang menjadi positivisme,
dimana masyarakat sudah tidak memikirkan hal-hal yang bersifat mistis, metafisik
lagi. Namun lebih beranjak menjadi lebih logis dan ilmiah.
Pada tahap yang pertama, masyarakat sangat percaya bahwa
terjadinya sesuatu karena kekuatan supranatural yang terjadi diluar batas
manusia. Kekuatan supranatural ini berasal dari roh leluhur ataupun sesuatu kejadian
alam/ terbentuknya alam memiliki roh yang kuat. Misalnya gunung, goa, laut,
batu, dan sebagainya dipercaya memiliki kekuatan magis yang mampu menyelesaikan
seluruh persoalan yang dihadapi manusia. Keberadannya dipercaya sebagai pelindung,
penangkal dari serangan musuh, penyembuh, dan membantu masyarakat untuk
bertahan hidup. Selain hal tersebut, masyarakat juga percaya adanya roh leluhur
yang sudah meninggal akan tetap tinggal bersama mereka yang berkuasa mampu
melindungi mereka, mengayomi, membantu, memberi rejeki hingga sampai menyembuhkan
penyakit yang mematikan. dampaknya seluruh aspek kehidupan masyarakat sangat
tergantung pada kekuatan-kekuatan tersebut, maka munculah ritual-ritual,
sesaji, upacara larungan, dan lain sebagianya sebagai ungkapan syukur, meminta
pertolongan, dan syarat dikabulkannya sebuah permintaan tertentu.
Peran para cenayang/ dukun pada tahap pola pikir ini
sangat dominan, guna menjadi perantara antara masyarakat biasa dengan kekuatan
yang mereka puja dan sembah sebagai otoritas mereka. Dukun ini mampu mendatangkan
kekuatan tersebut dengan mudah, dan hanya dia yang mengetahui cara bagaimana
mengundang kekuatan tersebut untuk mengabulkan apa yang menjadi permintaan/
persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
Tahapan yang kedua adalah metafisika, dimana masyarakat
percaya bahwa terjadinya sesuatu memang sudah menjadi hukum alam. Alam yang
mengatur seluruhnya. Bahwa segala sesuatu terjadi bukan karena kekuatan lain
seperti dewa misalnya atau roh-roh yang mendiami suatu tempat/ benda, melainkan
semua terjadi secara alami. Hukum alam berlaku. Semuanya mengalir seperti alam
apa adanya. Hujan badai terjadi memang karena faktor alam, bukan karena dewa/
roh leluhur sedang marah. Seseorang meninggal bukan karena kutukan dari leluhur
yang mendahuluinya atau karena diserang oleh roh-roh jahat, melainkan sudah
saatnya pada diri orang meninggal tersebut memenuhi hukum alam bahwa ada yang
dilahirkan, ada pula yang meniggal. Sakit yang diderita seseorang bukan karena
dia melakukan kesalahan di tempat-tempat keramat, melainkan memang ada proses
alam yang sedang terjadi pada diri orang yang sakit tersebut.
Pada tahapan yang ketiga, yaitu positivisme. Dimana
masyarakat sudah mulai berpikir logis dan rasional, segala sesuatu dapat
dibuktikan secara ilmiah dan rasional. Segala sesuatu dapat diciptakan atau
merupakan buatan dari hasil pemikiran manusia. Masyarakat sudah meulai
meninggalkan pola pikir dari kekuatan yang tidak tampak mata, menjadi
visualisasi ilmiah yang dapat dijelaskan dengan berbagai macam pembuktian-pembuktian
ilmiah. Terjadinya pelangi, bukan karena ada bidadari yang sedang mandi atau
ada sekumpulan naga yang sedang melintas di bumi. Dalam pemikiran positivisme,
ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui penelitian bahwa terjadinya pelangi
merupakan hasil pembiasan cahaya matahari mengenai air yang menggumpal di udara
dan turun menjadi hujan. Kematian seseorang secara tiba-tiba bukanlah sebagai
hukuman atas dirinya yang berdosa dan akhirnya dibawa pergi oleh roh jahat yang
dia sembah, malinkan dapat dijelaskan sebagai akibat dari serangan jantung yang
terjadi secara mendadak, yang mengakibatkan jantung berhenti berdetak dan taidak
mampu memompa darah dan oksigen yang terkandung didalamnya ke otak dan seuruh
tubuh. Dalam fase ini masyarakat sudah
meninggalkan pola pikir mistis dan pemujaan kepada dewa-dewa.
Namun beberapa hal menjadi sebuah kejanggalan. Masyarakat
Jawa pada masa sekarang ini cenderung pada tahap positivisme. Tetapi berbagai kegiatan-kegiatan
ritual sesambahan, larungan, dan upacara-upacara bersifat magis lainnya masih
tetap dilakukan. Ditengah-tengah moderinsme sekarang ini, masih ada beberapa
daerah yang memberikan sesaji di perempataan jalan, hiburan-hiburan tradisional
dengan meminta restu dari roh leluhur, upacara ritual yang membuat anggotanya kesurupan
atau trance. Ternyata masyarakat Jawa
belum sepenuhnya berada pada fase positivisme.
Jacob Sumardjo menambahkan bahwa dalam hal kebudayaan
masyarakat kita saat ini masih hidup dalam campur aduk antara budaya mitis,
ontologis dan fungsional. Masyarakat belum sepenuhnya menjadi masyarakat modern
yang mengedepankan posiitivisme. Pengaruh nilai-nilai lama sangat kuat dan
susah untuk dihilangkan. Banyak budaya-budaya yang sudah berubah bentuk menjadi
modern namun fungsi budaya lama yang bersifat mitis masih ada. misalnya
seseorang yang menanggap wayang dalam upacara khitanan anaknya. Bentuk wayang
sendiri mungkin sudah mengalami perubahan menyesuaikan dengan perkembangan
jaman pada masa sekarang. Namun dilihat dari fungsinya, wayang tersebut masih
mengandung fungsi mitis bagi yang punya hajat, yaitu mengundang keselamatan
bagi anak dan keluarganya. (Sumardjo, 2000).
Metode Fenomenologi
Makalah ini menggunakan pendekatan fenomonologis dalam
mengupas fenomena dan pergeseran makna cerita Telaga Sarangan. Penulis terjun
langsung di lokasi Telaga Sarangan dan
melakukan wawancara dengan beberapa warga sekitar telaga. Selain itu penulis
juga melakukan observasi langsung di kawasan tersebut dengan mengamati beberapa
tempat-tempat yang dianggap menarik dan dapat menggal informasi sebanyak
mungkin tentang kawasan tersebut.
Setiap pendekatan pada fenomena budaya, selalu diawali
dari pandangan dan posisi tertentu. Pembahasan menggunakan pendekatan
fenomenologi hanya menunjukan betapa beragamnya pandangan masyarakat pada suatu
teks dalam hal ini suatu fenomena tertentu. Peneliti biasanya merupakan bagian
dari sistem sosial dimana fenomena itu terjadi atau dapat dilakukan dengan cara
observasi secara langsung dan menyelami berbagai hal menganai fenomena
tersebut. Penulis selalu memiliki cara pemahaman yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang melatarbelakanginya. (Thwaites, Davis, & Mules, 1994).
Dalam metode fenomonologi, tidak sekedar menceritakan
suatu fenomena yang ada, melainkan lebih dari itu yaitu esensi dari sebuah
fenomena tersebut. Membangun pola pemikiran dari apa yang dikatakan menjadi apa
yang dibicarakan. Tidak menjadikan suatu fenomena menjadi sebuah informasi faktual,
melainkan apa yang dapat dimengerti dari informasi-informasi yang didapat dari
pendalaman tentang fenomena tersebut. Tidak hanya memberikan definisi umum
secara harafiah saja, melainkan lebih dalam dari itu yaitu makna dari sebua
definisi sehingga kita dapat mendapatkan arti yang sesungguhnya dari definisi
tersebut. (Lindseth & Rn, 2004).
Dalam makalah ini, pendekatan fenomenologi diterapkan
pada pembahasan mengenai cerita Telaga Sarangan. Dimana didalmnya tidak hanya
membahas mmengenai teks terbentuknya saja, melainkan lebih dalam menggali makna
secara esensinya. Makna adanya sebuah telaga bagi masyarakat disekitarnya
menurut pemikiran masyarakat Jawa pada umunya, mulai dari pemikiran secara
mitis, metafisika hingga perumahan karena arus modernisasi menjadi lebih menuju
ke arah positivisme.
Sutiyono menambahkan fenomenologi mencoba memberikan
gambaran tentang pengalaman manusia salah satunya jajaran pengalaman manusia
dalam kajian budaya, dimana fenomena ini membentuk sebuah konstruksi yang
berujung pada akal sehat. (Sutiyono, 2018). Dengan mencoba terlibat langsung dalam masyarakatnya,
peneliti berusaha memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat sekitar
telaga dari aspek budaya yang terbentuk dari sebuah cerita mistis terbentuknya Telaga
Sarangan hingga membentuk sebuah konstruksi masyarakat sekitar dan
perubahan-perubahan pola pikir mereka. Peneliti menggali informasi sebanyak
mungkin melalui wawancara, observasi dan studi literasi dari berbagai sumber
dan mengkaitkannya dengan fenomena yang ada. Menggali berbagai pemikiran baru
dari masyarakatnya, perubahan-perubahan makna dari sebuah telaga yang menjadi
tempat penghidupan masyarakat sekitarnya.
III.
PEMBAHASAN
Pembahasan dalam makalah ini akan mengacu pada pola
pemikiran masyarakat Jawa terhadap fenomena Telaga Pasir yang terletak di desa
Sarangan, di daerah Magetan Jawa timur. Dimana sepert yang pernah dibahas dan
diungkapkan oleh Sutiyono, dalam masyarakat Jawa terdapat tiga tahapan
pemikiran manusia yaitu percaya pada kekuatan supranatural/mistis, metafisika,
dan tahapan positivisme. (Sutiyono, 1980). Tampaknya dari hasil pemaparannya, tampaknya menarik
untuk menggali secara mendalam mengenai perubahan makna dari munculnya fenomena
ini dari awal hingga masa kini.
Histori dari terbentuknya Telaga Sarangan dihidupi,
diimajinasikan oleh masyarakat dalam narasi-narasi yang menjadi mitos dengan
penyebaran secara lisan. Keberadannya menjadi nyata, diyakini dan dipercaya
sebagai kebenaran yang mempengarhui seluruh aspek kehidupannya. Masyarakat lama
pada masa tahapan pola berpikir supranatural ini percaya adanya Telaga Pasir di
Sarangan terbentuk dari sepasang suami istri yaitu Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang
berubah menjadi Naga setelah memakan sebuah telur yang ditemukan di hutan,
hingga muncul rasa sakit yang luar biasa dalam tubuh mereka hingga
berguling-guling di tanah dan akhirnya berubah menjadi Naga raksasa, yang mengakibatkan
cekungan besar dan dalam di tanah dengan mata air yang memancar memenuhi
cekungan tersebut. Maka terbentuklah sebuah telaga Pasir di lahan tersebut.
Masyarakat percaya pada kisah tersebut, dan berdampak
pada seluruh aspek kehidupan. Keselamatan, perlindungan, berkah, rejeki, hingga
kesembuhan bergantung pada sosok naga yang tinggal dalam telaga. Segala gejala
alam yang terjadi di daerah tersebut disebabkan oleh kemarahan dari dua sosok
naga besar sebagai otoritasnya. Dari literasi yang penulis baca, cerita
mengenai terbantuknya Telaga sarangan ini mengalami sedikit bias. Ada beberapa
versi yang agak berbeda satu sama lain. Dari hasil wawancara dengan beberapa
nara sumber, tidak ada jawaban yang mengarah pada cerita-cerita mitos pembentukannya.
Tampaknya mereka tidak antusias untuk menceritakannya bahkan cenderung mengabaikan
cerita-cerita tersebut. Wawancara dengan Mas Haeri selaku petugas pintu air
menyampaikan bahwa cerita-cerita mitos terbentuknya telaga ini adalah cerita
diluar nalar dan tidak dapat diterima akal sehat.
Tampaknya masyarakat sekitar sudah memiliki pola pikir
yang berubah, dari kepercayaan terhadap kekuatan supranatural dalam hal ini
sosok naga yang mendiami telaga menjadi pola pikir yang lebih rasional. Bahwa
terbentuknya Telaga Pasir Sarangan ini terjadi secara alami dari proses alam
dengan sumber mata air dari pegunungan Lawu. Sangat jauh berbeda dengan cerita
mitos yang beredar dari masyarakat lampau. Hal ini disampaikan oleh Mas haeri
bahwa telaga ini merupakan telaga alami dari proses alam yang dapat dijelaskan
secara ilmiah dan tidak ada keterkaitan dengan cerita-cerita mitos.
Fungsi berubah seiring dengan perkembangan masyarakat di
sekitar telaga Dua ekor naga raksasa yang dahulu menjadi dewa pemberi keselamatan,
yang dipuja dan dipuji masyarakatnya kini menjadi simbol semata. Keberadannya
hanya sebatas cerita saja. Masyarakat berkembang seiring kemajuan jaman.
Tuntuan ekonomi, perkembangan informasi, teknologi bahkan revolusi industri
mempengaruhi pola pikir masyarakatnya. Kepercayaan supranatural yang membuahkan
tradisi-tradisi seperti sesembahan, sesaji, pemujaan mulai berubah secara
dinamis mengikuti perkembangan jaman. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan
oelh Arnold Hauser bahwa tradisi-tradisi memiliki esensi yang tidak menentu,
fleksibel dan yang dipengaruhi oleh perubahan individu-individu dalam sebuah
komunitas masyarakat tertentu. (Hauser, 1982).
Tampaknya proses penyebarluasan mitos mengenai telaga ini
secara lisan telah tergerus arus modernisasi. Dampaknya cerita-cerita mengenai
terbentuknya Telaga Pasir di Sarangan ini tidak banyak masyarakat sekitar yang
mengetahuinya. Dari hasil wawancara dengan nara sumber lain menyatakan tidak
tahu menahu mengenai mitos terbentuknya telaga Pasir di Sarangan ini.
Kini, area Telaga Pasir Sarangan berubah fungsi menjadi
destinsi wisata yang menarik. Suasana pegungungan Lawu yang sejuk, beberapa
ekor kera masih tampak liar di area pemukiman dan embun yang setiap pagi
menyelimuti kawasan ini, membuat daya pikat yang eksotis bagi pada pengunjung
dari luar daerah. Suasana asli yang jauh dari dampak polusi kawasan insustri.
Ketenangan, kenyamanan dan perasaan menyatu dengan alam seolah membuat otak
kembali disegarkan setalah beberapa waktu bekerja keras.
Telaga Sarangan menjadi destinasi
wisata yang diminati banyak orang. Kemajuan teknologi membantu eksistensinya.
Dari jauh, tanpa harus datang ke lokasi, para wisatawan dapat terlebih dahulu
melakukan surfey lokasi guna kegiatan berlibur secara pribadi, privat dengan
keluarga, maupun acara pertemuan/ workshop bersama rekan kerja. Penelitian yang
dilakukan Ika Barokah Suryaningsihi,
dan Sumani, ternyata kemudahan-kemudahan
teknologi sangat membantu minat para wisatawan dari luar Kabupaten Magetan untuk
kembali datang ke destinasi wisata ini. beberapa kemudahan yang membantu
diantaranya adalah citra tujuan wisata, dan informasi dari media sosial menibulkan ketertarikan bagi
para wisatawan. Kemudahan informasi yang
bersifat finansial juga dapat diperoleh, guna menghitung perkiraan pengeluaran
yang dibutuhkan jika berkunjung ke destinasi wisata ini. pengeluaran untuk
penginapan, layanan wahana/ jasa yang ditawarkan, aksesoris yang menjadi cirikhas
disana, hingga wisata kuliner yang tersedia. (Suryaningsih
& Sumani, 2019).
Selain kuliner, beberapa arena/ wahana bermain di area
ini antara lain naik Kuda, naik speed boat,
yang bertarif rata-rata Rp. 60.000 untuk satu kali keliling telaga yang kurang
lebih selama 45 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki dengan santai.
Pekerja-pekerja objek wisata tersebut merupakan warga asli sekitar telaga. Hal
ini dituturkkan oleh salah satu nara sumber yang merupakan seorang driver speed boat yaitu pak Warijo.
Beliau juga menambahkan bahwa ada persaingan antara pedagang dan para tukang kuda
dan tukang perahu dengan para penjual. Dahulu para penjual makanan yang berasal
dari daerah luar sarangan tidak tertib dan tidak mau diatur, maka warga
setempat berinisiatif membuat peraturan untuk tidak boleh berjualan membelakangi
telaga. Pada awalnya penulis sempat berpikir ada alasan yang mistis mengenai
larangan tersebut, namun Pak Warijo membantah jika adanya alasan mistis dibalik
larangan tersebut. Penuturan beliau sangat logis dan masuk akal bahwa larangan
tersebut dimaksudkan agar para pedagang tidak menutupi suasana dan pemandangan
Telaga Sarangan. Tujuan dari para pengunjung di telaga ini kan untuk melihat
indahnya panorama telaga, jangan sampai adanya pedagang yang berada di
pinggir-pinggir telaga dengan posisi membelakangi telaga justru akan
menghalangi para penunjung sehingga mereka tidak nyaman. Pembicaraan kami mulai
asik dan saya rasanya penulis sangat nyaman berada di sekitar telaga tersebut.
Pelayanan masyarakatnya yang ramah, keperdulian terhadap kebersihan lingkungan
dan semangat gotong royong sangat terasa. Perahu speed boat yang terparkir di
salah satu sisi telaga merupakan milik perorangan warga sekitar telaga. Tidak
ada seorang yang memonopoli penyediaan speed boat untuk disewa. Semua milik
perorangan. Yang artinya bahwa mata pencaharian itu menjadi pokok penghasilan
masyarakat sekitar dan tidak ada pihak yang mendominasi bahkan memonopolinya.
.
|
Sampai
pada kesempatan penulis bertemu dengan Pak warijo yang sangat berpikiran logis,
saya sementara berkseimpulan bahwa pola pikir warga sekitar Telaga Sarangan
tersebut sudah berubah dari kepercayaan pada hal-hal yang mistis menjadi realis
dan rasional. Masyarakat sekitar menurut pemantauan saya sangat terbuka dengan
perubahan positif dampak modernisasi. Penyediaan fasilitas WIFI secara geratis
di setiap hotel dan penginapan sekitar telaga dan jaringan seluler yang cukup
bagus, menandakan bahwa modernisasi sudah berhasil menyentuh daerah tersebut.
Namun perubahan msyarakat dari pemikiran supranatural
yang percaya adanya kekuatan dewa dan roh-roh halus menjadi masyarakat yang
rasional dan moderinsasi masih dipertanyakan. Pasalnya dari salah satu
narasumber menyatakan masyarakat sekitar msih melakukan upacara sesembahan
berupa pelarungan sesaji ke dalam telaga. Hal ini diungkapkan oleh ibu Tuksini
yang merupakan warga sekitar berprofesi sebagai penjual pecel khas Sarangan.
Beliau memaparkan setiap satu tahun sekali yaitu pada bulan ruwah, diadakan upacara larung sesaji
berupa tumpeng ke dalam telaga. Ketika ditanya mengenai tujan dilakukan upacara
larungan tersebut, beliau menjawab untuk keselamatan dan keamanan masyarakat sekitar.
Hal ini senada yang diungkapkan Rini, bahwa dengan melakukan upacara ritual
tersebut, masyarakat mengalami ketenangan batin, dan alam tidak akan memberikan
bencana. (Rini, 2013). Prosesi ini dilakukan di salah satu titik di sekeliling
telaga, yaitu tempat dimana terdapat dua buah pohon besar berlilitkan kain
putih, yang diistilahkan dengan Pedhanyangan.
Dalam acara ritual ini diselenggarakan juga berbagai macam hiburan daerah
seperti Campursari, Reog, festival tari-tarian yang diperagakan oleh anak-anak
sekolah. pada moment tersebut akan ramai pengunjung yang datang dari berbagai
daerah.
Dalam penelitian budaya yang menggunakan pendekatan
subjektif, muncul tafsiran-tafsiran subjektif dari peneliti. (Endraswara, 2006). Sampai pada nara sumber yang ketiga ini, dengan
pendekatan penelitian subjektif, peneliti menafsirkan data-data yang terdapat
perbedaan yang sangat jauh antara kepercayaan supranatural masyarakatnya dan
modernisasi yang terjadi dilapangan. Semula tampaknya masyarakat sekitar telaga
sangat rasional, dan sudah tidak percaya lagi dengan hal-hal yang berkaitan
dengan roh dan sesuatu yang mistis. Namun mereka masih melakukan ritual larung
sesaji ke dalam Telaga Pasir Sarangan guna memperoleh keamanan dan keselamatan
masyarakat sekitar. Narasi-narasi tentang legenda yang sudah tertanam pada
masyarakatnya, ternyata masih ada dan tidak dapat hilang begitu saja. Pemaparan
dinamika perubahan pola pikir masyarakat Jawa dipaparkan pula oleh Pajar Hatma
Indra Jaya, bahwa yang menyebabkan peubahan pola pikir masyarakat terhadap
narasi-narasi yang dianggap tidak masuk akal adalah pendidikan sebagai agen perubahan.
Didalam pendidikan diajarkan tentang rasional, kritis, dan pembuktian logis
dari suatu narasi yang dianggap mitis. Namun keberadaan narasi-narasi tersebut
tidak dapat hilang begitu saja. (Jaya, 2012).
Selain pendidikan yang berdampak pada perubahan, Agama
juga salah satu yang berdampak pada perubahan pola pikir masyarakat atas fenomena budaya dan tradisi yang terjadi dan
dipercayai. Sutiyono memaparkan tradisi-tradisi yang tercipta dari kepercayaan
masyarakat ini bersinggungan dengan pemujaan dan penyembahan terhadap roh-roh
selain Tuhan. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran-ajarna Agama. Akibatnya
tradisi mendapat justifikasi mengenai halal dan haram dari kelompok sosial keagamaan
tertentu. (Sutiyono, 2014). Ini mempengaruhi pola pikir masyarakat secara umum.
Tentunya ada masyarakat yang menerima justifikkasi haram dan ada juga yang
menerima bahwa tradisi-tradisi itu haram hukumnya.
Pada era sekarang ini tradisi semakin lama semakin hilang terlebih terjadi pada para
pemuda/pemudi remaja yang tergolong dalam GEN- Z, dimana generasi ini lahir setelah tahun 2001.(Walidah,
2017). Generasi ini sangat
mahir dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.Tertarik
dengan teknologi yang terus maju
seiring dengan perkembangan industri yang sekarang ini sudah dalam tahap
revolusi industri 4.0. Dampanya,
pola pikirpun berubah. Pemikiran mitis menjadi berbasis
teknologi, yang jika dipadukan tidak akan menemui jalan temunya. Teknologipun
menguasai berbagai aspek kehidupan, hal ini mengalihkan pemikiran-pemikiran
mitis menuju pemikiran yang rasional, dan penggunaan teknologi guna
menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan.
Terkhusus bagi para GEN- Z,
yang masih berada pada tingkat usia pelajar, usaha pemerintah Kabupaten
Magetan, dalam usaha pelestaraian budaya lokal yaitu dengan upaya kegiatan
literasi disekolah melalui bahasa Jawa yang memuat cerita-cerita rakyat berkonten
lokal yang ada di daerah Magetan, dan harapannya mereka semakin cinta terhadap
budaya sendiri dan ikut melestarikannya. (Fitriani & Samsiyah, 2018).
IV.
KESIMPULAN
Kekayaan alam Indonesai sudah diakui banyak dunia. Itu
menjadi salah satu alasan beberapa penjajah dan pedagang datang ke negeri ini.
pemandangan alam yang elok, tak tertandingi dan dimanapu tidak ada negeri yang
seindah Indonesia. kekayaan-budaya dan tradisi yang ada dialamnya juga menjadi
salah satu unsur ketertarikan bangasa pendatang ke Indonesia. Nilai-nilai dalam
narasi cerita/ legenda asal usul terbentuknya tempat-tempat eksoitik di
Indonesia tak terkira jumahnya. Setiap tempat memiliki kisah mitos yang
berjalan beriringan dengan makna harafiah dari tempat tersebut.
Telaga Pasir sarangan salah satunya. Tempat yang kini
menjadi destinasi wisata ini memiliki cerita mitis yang mengagumkan diluar akal
pikiran dalam pola pikir masyarakat saat ini. namun pada masa itu, narasi
cerita awal mula terbentuknya telaga nan eksotis ini menjadi sebuah kebenaran
bagi masyarakatnya. Narasi-narasi ini membentuk tradisi-tradisi unik yang
ternyata hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat. Masuknya modernisasi
di daerah ini, tidak pernah membuat tradisi awal menjadi hilang. Masyarakat
tetap memiliki pola pikir semakin maju, namun disisi lain kepercayaan terhadap
kekuatan magis dari Telaga Sarangan masih sangat terlihat. Dua hal yang bertolak
belakang berjalan beriringan. Hal ini difasilitasi oleh pemerintah daerah
setempat, pada prosesi upacara larung sesaji di telaga. Untuk prosesi sakralnya,
diserahkan sepenuhnya pada masyarakat Sarangan, sedangkan hiburan rakyat,
sepenuhnya difasilitasi oleh pemerintah Kabupaten Magetan. Mitos narasi dua
naga yang menghuni di dalam telaga masih dipertahankan dalam sebuah simbol yang
ada di slaah satu sisi telaga disamping pintu masuknya. Dua sosok naga yang
mengapit sebuah gunungan, sebagai simbol hidupnya narasi yang dahulu kebenarannya
dianggap nyata.
Kemajuan jaman tidak membuat masyarakat melepaskan apa
yang manjadi identitas secara historis dengan aspek mitisnya. Berbagai upaya
dilakukan oleh pemerintah dalam hal pelestarian budaya. Satu penelitian dari
Alexander Setiawan, Andreas Handojo, dan Rendra Hadi mendukung hal ini dengan menciptakan
aplikasi berbasis android dalam mempelajari berbagai macam kebudayaan yang ada
di Indonesia sepserti nama suku, rumah adat, lagu daerah, bahasa daerah makanan
tradisional hingga alat musik dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. (Setiawan, Handojo, & Hadi, 2017). Hal ini menunjukan generasi muda yang masih peduli
dengan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.
V.
DAFTAR PUSTAKA
Endraswara,
S. (2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan Ideologi,
Epistimologi dan Aplikasi (1st ed.). Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Fitriani,
W. A. C., & Samsiyah, N. (2018). Local Culture through Javanese Language
Literacy as a Learning Resource at Magetan District Primary. Advances in
Social Science, Education and Humanities Research, 280, 581–585.
Hauser,
A. (1982). The Sociology of Art. London: Routledge & Kegan Paul Ltd.
Jaya,
P. H. I. (2012). DINAMIKA POLA PIKIR ORANG JAWA DITENGAH ARUS MODERNISASI. Humaniora,
24(2), 133–140.
Lindseth,
A., & Rn, A. N. (2004). A phenomenological hermeneutical method for
researching lived experience. Nordic College of Caring Sciences, Scand J
Caring Sci, 18, 145–153.
Nurmayasari,
N. (2017). Seri Pengenalan Budaya Nusantara: LEGENDA TELAGA SARANGAN.
(Y. Sinubulan, Ed.) (1st ed.). Ja: Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME
dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Pradoko,
S. (2018). SEMIOTIKA GUNA PENELITIAN OBJEK KEBUDAYAAN MATERIAL SENI. FBS UNY,
1–20.
Rini,
R. S. (2013). Labuhan Sarangan (Kajian Etnografi Upacara Labuhan Sarangan Di
Telaga Sarangan, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan). Universitas
Airlangga.
Setiawan,
A., Handojo, A., & Hadi, R. (2017). Indonesian Culture Learning Application
based on Android. International Journal of Electrical and Computer
Engineering (IJECE), 7(1), 526–535.
https://doi.org/10.11591/ijece.v7i1.pp526-535
Sumardjo,
J. (2000). Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB.
Suryaningsih,
I. B., & Sumani. (2019). THE INFLUENCE OF FINANCIAL LITERACY , THE IMAGE OF
DESTINATION , THE SOCIAL MEDIA AGAINST THE INTEREST OF VISITING LOCAL TOURISTS.
European Journal of Management and Marketing Studies, 3(2016),
1–18. https://doi.org/10.5281/zenodo.2542742
Sutiyono.
(1980). Alam pikiran dalam masyarakat budaya jawa. FBS UNY, 1–11.
Sutiyono.
(2014). SENI TRADISI DI INDONESIA DAN FENOMENA HARAM-HALAL. Imaji, 12,
1–7.
Sutiyono,
S. (2018). Phenomenological Approach in Traditional Theater Art. International
Journal of Art and Art History, 6(2), 17–21. https://doi.org/10.15640/ijaah.v6n2p3
Thwaites,
T., Davis, L., & Mules, W. (1994). TOOLS FOR CULTURAL STUDIES AN
INTRODUCTION. South Melbourne: Macmilian Education.
Walidah,
I. Al. (2017). Tabayyun di era generasi millennial. Living Hadis, 2,
317–344.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan sampaikan komentar dengan sudut pandang Anda dengan bijak.