TRADISI DAN POLA PIKIR MASYARAKAT TELAGA SARANGAN DITENGAH MODERNISASI


TRADISI DAN POLA PIKIR MASYARAKAT TELAGA SARANGAN DITENGAH MODERNISASI
Ardhi Kurniawan
Pendidikan Seni Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

I.            LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia memiliki berjuta potensi dan kekayaan sumber alam dan manusianya. Tak heran wilayah indonesia menjadi incaran bagi negara-negara lain yang yang inign memperluas daerah kekuasannya. Beberapa negara yang pernah singgah dan menetap di Indonesai selama berpuluh-puluh tahun bahkan beberapa abad lamanya antara lain India, Eropa, China dan Jepang. Kedatangan mereka tampaknya membawa pengaruh yang besar terhadap sosial dan budaya Indonesia. Beberapa sistem kepercayaan dalam bentuk Agama seperti, Hindu, Budha, Kristen dan Islam muncul sebagai dampak dari kedatangan mereka. Selain memperluas jajahan dan berdagang, kedatangan bangsa pendatang ini membawa misi keagamaan.
Setelah bangsa-bangsa pendatang ini masuk, munculah agama-agama yang higga sekarang ini ada dan berkembang di Indonesia. dapat diasumsikan bahwa sebelum masuknya mereka sistem kepercayaan masyarakat Indonesia belum ada. Yang ada hanyalah sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Dimana dalam  kepercayaan ini percaya bahwa dalam sebuah benda-benda alam terdapat roh/ kekuatan yang mampu melindungi masyarakatnya dari marabahaya dan malapetaka. Selain itu percaya adanya roh nenek moyang yang sudah meninggal dan akan menetap di tempat-tempat tertentu dan mampu menyelesaikan seluruh masalah-masalah bagi yang mempercayainya.
Bahkan menurut Agusto Compte yang diuraikan oleh Sutiyono, bahwa terdapat tiga tahapan pemikiran manusia yaitu percaya pada kekuatan supranatural/mistis, metafisika, dimana bukan kekuatan supranatural yang menggerakan melainkan alam, dan tahapan positivisme, dimana manusia tidak lagi mengkaitkan segala sesuatu terjadi secara mistis, dan metafisika. (Sutiyono, 1980). Pada saat muncul sistem kepercayaan animisme dan dinamisme tersebut, mayarakat Indonesia pada saat itu berada pada tahapan supranatural/mistis.
Dari struktur alam yang ada di Indonesai dapat kita lihat, banyak sekali tempat-tempat eksotis yang terjadi secara alami/bukan buatan manusia. Misalnya goa, gunung, pohon besar, danau/ telaga, pantai, dan tempat-tempat lainnya. Hasil aktivitas alam ini diyakini oleh masyarakat Indonesia yang masih mempercayai animisme dan dinamisme memiliki kekuatan bahkan dianggap memiliki cerita-cerita terbentuknya tempat tersebut. Akhirnya munculah cerita-cetita/dongeng tentang terjadinya suatu tempat. Cerita-cerita ini menjadi simbol yang terus-menerus diyakini kebenarannya dan dihidupi oleh masyarakatnya sehingga tampak menjadi simbol yang nyata.
Keyakinan ini mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat yang mempercayainya. Kelangsungan hidup masyarakat sangat bergantung pada kebenaran dari sebuah cerita legenda. Hingga pada tingkat jika tidak mengagungkan dan menaati aturan-aturan dari kebenaran tersebut, maka masyarakat akan celaka. Kebenaran tersebut menjadi sumber dari segala sumber penghidupan masyarakatnya seperti perlindungan, rejeki, jodoh, kesehatan, kekuatan yang menjadi otoritas hidup mereka. Otoritas ini dianggap mampu menyelesaikan segala permasalahan sosial yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakatnya.
Sebagai rasa syukur, diberilah sesembahan/sesaji untuk otoritas tersebut. Biasanya berupa bunga, hasil alam, kemenyan, dupa, dan lain-lain. Jika hal ini tidak dilakukan/ lupa melakukannya, akan menimbulkan bencana besar yang melanda seluruh masyarakat yang mempercayainya. Dan jika ada bencana alam besar melanda masyarakatnya, mereka percaya bahwa ada kesalahan/ ketidak taatan dari masyarakatnya.
Sebagai contoh yang akan diulas dalam makalah ini adalah legenda tentang Telaga Sarangan, yang terletak di Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Sebuah telaga yang memiliki cerita/ legenda yang menjadi kepercayaan masyarakatnya, mempengaruhi seluruh aspek keberlangsungan secara individu dan sosial masyarakat sekitar. Kisah terbentuknya telaga ni menjadi simbol dan identitas yang terus dihidupi dan dipercayai masyarakatnya secara turun-temurun hingga kini.
Cerita/ kisah Telaga Sarangan sebagai simbol dan indentitas semakin lama dilupakan. Simbol ini sudah dikesampingkan keberadannya dan tergeser dengan pemaknaan lain terhadap simbol ini. orang-orang tertentu saja yang mengetahui cerita-cerita yang menjadi mitos mengenai asal-muasal terbentuknya telaga ini. Tanpa disadari simbol-simbol yang merupakan identitas dari sebuah daerah/ tempat yang berupa mitos-mitos merupakan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Dari cerita-cerita itulah muncul berbagai budaya-budaya lokal yang kaya akan kearifannya. Dari situlah muncul bagaimana cara masyarakat pada kala itu bertahan hidup menghadapi alam, sosial dan kebutuhan pokok mereka sehingga menciptakan kebudayaan-kebudayaan yang akhirnya menjadi ciri khas.


II.            KAJIAN TEORITIK
Telaga Sarangan
Telaga Sarangan, merupakan sebuah telaga yang terbentuk secara alami di pegunungan Lawu, terletak di daerah Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini sebenarnya memiliki nama Telaga Pasir, hanya karena keberadaannya terletak di daerah Sarangan, maka orang sering menyebutnya Telaga Sarangan. Telaga ini digunakan sebagai sumber pengairan bagi sawah di desa-desa sekitarnya. Setiap kali ada permintaan air, petugas membuka pintu air untuk mengalirkan air dari Telaga ini untuk memenuhi pasokan air bagi sawah yang kekurangan air. Selain fungsinya sebagai sumber pengairan, kini tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata dari Kabupaten Magetan yang menarik banyak pengunjung dari lokal maupun mancanegara. Keindahan alam yang sejuk, asli, dan penuh dengan ketenangan, membuat pesona kawasan wisata ini menjadi semakin diminati banyak orang.
Namun siapa sangka dibalik eksotisnya pemandangan di Telaga ini, terdapat kisah yang menjadi legenda terbentuknya Telaga sarangan. Berikut cerita terciptanya Telaga sarangan yang dipercayai oleh masyarakatnya sebagai kebenaran yang terkadang diluar nalar dan akal manusia. Cerita ini diambil dari cerita versi Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Telaga Sarangan terletak di lereng sebelah timur pegunungan Lawu, berbatasan langsung dengan destinasi wisata di kawasan Tawangmangu Karanganyar, Jawa Tengah. Hawanya dingin, berkisar antara 18-25 derajat Celsius, karena terletak di ketinggian 1200 m diatas permukaan air laut. Dengan lingkungan hutan yang masih asli, ditandai dengan banyaknya monyet-monyet liar di sekitar area telaga. Telaga ini mempunyai luas sekitar 30 hektare, dengan kedalaman lebih dari 28 m. Di tengah telaga, terdapat sebuah pulau kecil yang masyarakat sekitar menyebutnya Pulau Putri/ pulau sangoro. Tak jauh dari pintu masuknya, terdapat sebuah semacam monumen kecil, terdapat sebuah gunungan yang dikiri dan kanannya masing-masing terdapat sebuah patung naga. Patung nada inilah yang menjadi ikon cerita dari terbentuknya Telaga Sarangan.
Menurut penuturan mbah Sastro dalam buku ini dikisahkan di daerah ini pada mulanya hiduplah sepasang suami istri yang bernama Kyai Pasir dan Nyi Pasir. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana terbuat dari kayu dengan beratapkan dedaunan, di lereng Gunung Lawu. Sangat sederhana namun hidup mereka damai dan sejahtera. Mereka merasa aman dan nyaman tinggal disana tanpa takut ada bahaya alam dan serangan binatang buas yang setiapsaat bisa datang menghampiri mereka. Sumber penghidupan dan penghasilan mereka berasal dari hasil bercocok tanam dan berladang. Hasil bumi di daerah itu sangat melimpah, sayuran, buah-buahan seperti strobery, sangat melimpah.
Hingga suatu hari, Kyai Pasir sedang merladang untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Dia membuka lahan di hutan untuk tempat dia bercocok tanam dan berladang. Kyai Pasih harus menebang beberapa pohon dihutan untuk dijadikan sebagai lahan bercocok tanam. Setelah beberapa pohon ditebang, kemudian Kyai Pasir harus membersihkan ilalang dan semak-semak yang dapat mengganggu tanaman yang akan dia tanam. Suatu saat ketika dia sedang membuka lahan baru untuk tempat bercocok tanam, dia menemukan sebutir telur di bawah batang pohon yang dia tebang. Telur itu mirip sekali dengan telur ayam dari segi ukuran dan bentuknya. Dia pun berpikir pastinya ada unggas disekitar area tersebut dan menunggunya siapa tahu datang untuk menetaskan telurnya. Kyai Pasir pun menunggu sambil menyelesaikan pekerjaannya membuka lahan bercocok tanamnya. Setelah ditunggu beberapa lama, tak seekor unggaspun yang dia lihat. Alhirnya Kyai Pasir membawa telur itu pulang kerumahnya.
Sesampainya dirumah, Kyai Pasir memberikan telur tersebut pada istrinya dan menceritakan penemuan telur tersebut pada istrinya. Lama sekali mereka hanya memandangi telur tersebut yang mereka letakan diatas meja. Nyai Pasir juga merasa heran. Tidak pernah sekalipun Kyai Pasir pulang dengan membawa telur seusai meladang di hutan. Karena keadaan meraka yang sangat sederhana, sayur dan lauk-pauk mereka dapatkan dari hasil hutan, akhirnya Nyai Pasir merebus telur tersebut untuk dijadikan lauk yang kebetulan mereka sedang tidak punya lauk untuk dimakan. Setelah masak, Nyai Pasir membelah telur tersebut menjadi dua bagian untuk mereka makan.   Sembari makan muncul harapan di dalam benak Nyai Pasir supaya setiap hari suaminya, Kyai Pasir mendapatkan telur sebagai lauk pauk mereka. Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, Kyai Pasir kembali melanjutkan pekerjaannya menebang pohon dihutan dan bercocok tanam.
Tidak terjadi hal yang aneh dan janggal pada awalnya.  Semua baik-baik saja. Telur yang dimakan Kyai Pasir dan istrinya tidak berdampak buruk bagi tubuh mereka. Hingga suatu ketika, secara tiba-tiba tubuh Kyai Pasir terasa panas, seluruh urat dan persendiannya kaku dan terasa gatal. Tubuhnya menggigil mengeluarkan keringat dingin, matanya berkunang-kunang, wajahnya tampak pucat. Kyai Pasir pun tak kuasa menahannya, hingga dia rebah dan berguling-guling diatas tanah, sehingga membentuk sebuah cekungan. Secara perlahan tubuh Kyai Pasir berubah menjadi seekor naga yang besar sekali. Begitu juga yang terjadi dengan Nyai Pasir. Dia merasakan hal yang sama dengan suaminya. Karena takut, Nyai Pasirpun datang bermaksud menghampiri suaminya dd ladang. Namun dia kaget ketika melihat suaminya yang sudah berubah wujud menjadi seekor naga yang besar. Kyai Pasir yang sudah berubah wujud berusaha meyakinkan istrinya bahwa ia adalah suaminya. Namun tubuh sang istri pun mulai tidak kuat menahan sakit yang dirasakan. Nyai Pasir pun rebah ke tanah, dan berguling-guling karena tidak tahan menahan rasa sakitnya. Tak lama kemudian, tubuh Nyai Pasir pun berubah menjadi seekor naga besar sama seperti Kyai Pasir yang sebelumnya sudah berubah. Kini dua ekor naga besar berguling-guling lama hingga terbentuklah sebuah cekungan besar dan dalam yang memunculkan mata air yang terus mengalir. Cekungan tersebut terus menerus diisi air hingga menjadi telaga yang luas dan penuh dengan air dari sumber mata air dari dasar telaga tersebut. Dan akhirnya dua ekor naga tersebut menghilang di dalam dasar kolam besar/ telaga tersebut dan hingga kini masih dipercayai mereka masih bersembunyi didasar telaga tersebut.
Banyak muncul berbagai versi cerita, diantaranya Kyai Pasir dan Nyai Pasir memiliki anak, namun dia adalah seorang pengembara. Ketika pulang, kaget melihat rumahnya sudah menjadi telaga yang luas. Dia pun memohon pada Tuhan agar dapat menemukan orang tuanya dengan cara bertapa hingga mencapai mukso, yaitu menghilang dan dapat muncul sesekali.  Hingga kini keberadaannya tidak diketahui. Namun masyarakat percaya bahwa dua naga tersebut masih tinggal didasar telaga tersebut. Ketika hujan lebat, petir menyambar dan terjadi badai, masyarakat percaya hal itu adalah kemarahan dari dua sosok naga yang tinggal dalam Telaga. Namun ketika badai selesai, tampaklah sinar terang dari arah dua pohon yang ada di sisi tenggara telaga. Pohon itu dipercaya merupakan pohon tempat pertama kali Kyai Pasir menemukan telur ajaib yang akhirnya merubah dia bersama istrinya menjadi naga yang besar. Kini pohon tersebut menjadi Punden/ tampat yang dianggap keramat.
Nama telaga tersebut sebenarnya dalah telaga Pasir, sesuai dengan nama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Namun karena letaknya di desa Sarangan, maka orang-orang menyebutnya Telaga sarangan. Setiap setahun sekali, masyarakat sekitar mengadakan upacara ritual berupa sesembahan sesaji berupa makanan dalam bentuk tumpeng yang dilarung atau dihanyutkan dalam telaga. Hal ini dipercaya dapat meredam kemarahan naga dan menyelamatkan desa dari bencana. (Nurmayasari, 2017).

Material Kebudayaan
Cerita mengenai Telaga Sarangan ini menjadi sebuah material budaya bagi masyarakat setempat. Keberadaan material berupa objek budaya ini mempengarhui seluruh aspek kehidupan masyarakat yang menghidupinya. Seperti dikutip oleh Pradoko dalam disertasinya, terdapat empat peranan penting sebuah objek kebudayaan bagi masyarakat yang mempercayai dan menghidupinya. Pertama, penanda nilai. Dalam peranan ini, material kebudayaan diberi nilai-nilai tertentu oleh masyarakat yang mempercayainya. Kedua, penanda indentitas. Objek kebudayaan menjadi identitas dari suatu masyarakat tertentu di suatu tempat. Tentunya masyarakat disini dimaksudkan adalah masyarakat yang mempercayai kebenaran dari objek tersebut. Ketiga, wujud jaringan kekuasaan. Didalam objek kebudayaan tersebut terdapat jaringa-jaringan kekuasaan yang membentuknya, yang akhirnya akan berpengaruh kepada masyarakat yang mempercayainya. Keempat, sebagai wadah mitos. Didalam objek kebudayaan tersabut diberikan pesan-pesan mitos melalui isi narasi cerita dimana proses pembentukannya melibatkan kekuasaan tertentu yang ditujukan kepada masyarakat yang mempercayainya yang disebarkan melalui wacana-wacana. (Pradoko, 2018).
Melihat dari sisi peranannya, cerita terbentuknya Telaga Sarangan termasuk dalam objek kebudayaan material. Dilihat dari pean yang pertama yaitu sebagai penanda nilai, cerita terbentuknya Telaga Sarangan diberi nilai-nilai oleh masyarakatnya, yang akhirnya nilai-nilai tersebut diikuti oleh masyarakatnya hingga sekarang. Diantaranya pemberian sesaji yang setiap tahun diberikan berupa larung sesaji tumpeng di Telaga, dimaknai sebagai simbol dari nilai rasa syukur pada Tuhan atas rejeki dan keselamatan bagi masyarakat yang mempercayainya.
Dilihat dari peranan yang kedua yaitu sebagai penanda identitas, Telaga Sarangan pada mulanya adalah Telaga Pasir, namun karena letaknya di wilayah desa Sarangan, maka disebutlah sebagai Telaga Sarangan. Ini menjadi identitas dari desa tersebut, dimana orang mengenal desa Sarangan salah satunya dari sebuah telaga yang ada di wilayah tersebut.
Dilihat dari peranan yang ketiga, wujud jaraingan kekuasaan. Legenda terbentuknya Telaga Sarangan, berawal dari kisah sepsang suami istri yang berubah menjadi sosok naga besar, yang menguasai dan mendiami telaga tesebut. Dua naga ini dipercaya sebagai penguasa di wilayah tersebut. Peranannya sangat mempengaruhi pola pikir dan kepercayaan masyarakatnya. Terlihat dari ketaatan dan kepatuhan memberikan sesaji setiap tahun untuk memberi makan pada naga-naga tesebut agar tidak marah. Karena jika marah, akan timbul bencana besar bagi masyarakatnya.
Peranan yang keempat, sebagai wadah mitos. Proses pembentukan Telaga Sarangan diberikan cerita-cerita mitos berupa cerita hidup Kyai Pasir dan istrinya yang secara ajaib berubah menjadi naga setelah memakan telur yang ia temukan di hutan. Cerita ini terus dihidupi oleh masyarakatnya dan menjadi sebuah kebenaran bagi mereka dan mempengaruhi paradigma dan pola pikir mereka. Kekuasaan yang ada yaitu dua ekor naga yang berdiam di telaga berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup, keselamatan dan tejeki bagi masyarakatnya.
Alam Pemikiran Masyarakat Jawa
Berbagai macam cerita/ legenda yang muncul di tengah-tengah masyarakat Jawa pada khususnya menjadi tolak ukur bahwa pada kemunculannya masa lampau masyarakat Jawa begitu percaya pada hal-hal mistis dan diluar akal manusia. Sebab-sebab terjadinya sesuatu dipercaya dilakukan oleh kekuatan lain yang bukan berasal dari manusia, alam dan Tuhan yang pada waktu itu belum mengenal konsep ketuhanan. Dalam jurnal yang ditulis Sutiyono, yang menerapkan pemikiran Agusto Compte memaparkan mengenai alam pemikiran masyarakat Jawa dari masyarakat lampau hingga sekarang ini mengalami tiga tahapan yaitu mistis/supranatural, metafisika/alam, berkembang menjadi positivisme, dimana masyarakat sudah tidak memikirkan hal-hal yang bersifat mistis, metafisik lagi. Namun lebih beranjak menjadi lebih logis dan ilmiah.
Pada tahap yang pertama, masyarakat sangat percaya bahwa terjadinya sesuatu karena kekuatan supranatural yang terjadi diluar batas manusia. Kekuatan supranatural ini berasal dari roh leluhur ataupun sesuatu kejadian alam/ terbentuknya alam memiliki roh yang kuat. Misalnya gunung, goa, laut, batu, dan sebagainya dipercaya memiliki kekuatan magis yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi manusia. Keberadannya dipercaya sebagai pelindung, penangkal dari serangan musuh, penyembuh, dan membantu masyarakat untuk bertahan hidup. Selain hal tersebut, masyarakat juga percaya adanya roh leluhur yang sudah meninggal akan tetap tinggal bersama mereka yang berkuasa mampu melindungi mereka, mengayomi, membantu, memberi rejeki hingga sampai menyembuhkan penyakit yang mematikan. dampaknya seluruh aspek kehidupan masyarakat sangat tergantung pada kekuatan-kekuatan tersebut, maka munculah ritual-ritual, sesaji, upacara larungan, dan lain sebagianya sebagai ungkapan syukur, meminta pertolongan, dan syarat dikabulkannya sebuah permintaan tertentu.
Peran para cenayang/ dukun pada tahap pola pikir ini sangat dominan, guna menjadi perantara antara masyarakat biasa dengan kekuatan yang mereka puja dan sembah sebagai otoritas mereka. Dukun ini mampu mendatangkan kekuatan tersebut dengan mudah, dan hanya dia yang mengetahui cara bagaimana mengundang kekuatan tersebut untuk mengabulkan apa yang menjadi permintaan/ persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
Tahapan yang kedua adalah metafisika, dimana masyarakat percaya bahwa terjadinya sesuatu memang sudah menjadi hukum alam. Alam yang mengatur seluruhnya. Bahwa segala sesuatu terjadi bukan karena kekuatan lain seperti dewa misalnya atau roh-roh yang mendiami suatu tempat/ benda, melainkan semua terjadi secara alami. Hukum alam berlaku. Semuanya mengalir seperti alam apa adanya. Hujan badai terjadi memang karena faktor alam, bukan karena dewa/ roh leluhur sedang marah. Seseorang meninggal bukan karena kutukan dari leluhur yang mendahuluinya atau karena diserang oleh roh-roh jahat, melainkan sudah saatnya pada diri orang meninggal tersebut memenuhi hukum alam bahwa ada yang dilahirkan, ada pula yang meniggal. Sakit yang diderita seseorang bukan karena dia melakukan kesalahan di tempat-tempat keramat, melainkan memang ada proses alam yang sedang terjadi pada diri orang yang sakit tersebut.
Pada tahapan yang ketiga, yaitu positivisme. Dimana masyarakat sudah mulai berpikir logis dan rasional, segala sesuatu dapat dibuktikan secara ilmiah dan rasional. Segala sesuatu dapat diciptakan atau merupakan buatan dari hasil pemikiran manusia. Masyarakat sudah meulai meninggalkan pola pikir dari kekuatan yang tidak tampak mata, menjadi visualisasi ilmiah yang dapat dijelaskan dengan berbagai macam pembuktian-pembuktian ilmiah. Terjadinya pelangi, bukan karena ada bidadari yang sedang mandi atau ada sekumpulan naga yang sedang melintas di bumi. Dalam pemikiran positivisme, ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui penelitian bahwa terjadinya pelangi merupakan hasil pembiasan cahaya matahari mengenai air yang menggumpal di udara dan turun menjadi hujan. Kematian seseorang secara tiba-tiba bukanlah sebagai hukuman atas dirinya yang berdosa dan akhirnya dibawa pergi oleh roh jahat yang dia sembah, malinkan dapat dijelaskan sebagai akibat dari serangan jantung yang terjadi secara mendadak, yang mengakibatkan jantung berhenti berdetak dan taidak mampu memompa darah dan oksigen yang terkandung didalamnya ke otak dan seuruh tubuh.  Dalam fase ini masyarakat sudah meninggalkan pola pikir mistis dan pemujaan kepada dewa-dewa.
Namun beberapa hal menjadi sebuah kejanggalan. Masyarakat Jawa pada masa sekarang ini cenderung pada tahap positivisme. Tetapi berbagai kegiatan-kegiatan ritual sesambahan, larungan, dan upacara-upacara bersifat magis lainnya masih tetap dilakukan. Ditengah-tengah moderinsme sekarang ini, masih ada beberapa daerah yang memberikan sesaji di perempataan jalan, hiburan-hiburan tradisional dengan meminta restu dari roh leluhur, upacara ritual yang membuat anggotanya kesurupan atau trance. Ternyata masyarakat Jawa belum sepenuhnya berada pada fase positivisme.
Jacob Sumardjo menambahkan bahwa dalam hal kebudayaan masyarakat kita saat ini masih hidup dalam campur aduk antara budaya mitis, ontologis dan fungsional. Masyarakat belum sepenuhnya menjadi masyarakat modern yang mengedepankan posiitivisme. Pengaruh nilai-nilai lama sangat kuat dan susah untuk dihilangkan. Banyak budaya-budaya yang sudah berubah bentuk menjadi modern namun fungsi budaya lama yang bersifat mitis masih ada. misalnya seseorang yang menanggap wayang dalam upacara khitanan anaknya. Bentuk wayang sendiri mungkin sudah mengalami perubahan menyesuaikan dengan perkembangan jaman pada masa sekarang. Namun dilihat dari fungsinya, wayang tersebut masih mengandung fungsi mitis bagi yang punya hajat, yaitu mengundang keselamatan bagi anak dan keluarganya. (Sumardjo, 2000).
Metode Fenomenologi
Makalah ini menggunakan pendekatan fenomonologis dalam mengupas fenomena dan pergeseran makna cerita Telaga Sarangan. Penulis terjun langsung di lokasi Telaga  Sarangan dan melakukan wawancara dengan beberapa warga sekitar telaga. Selain itu penulis juga melakukan observasi langsung di kawasan tersebut dengan mengamati beberapa tempat-tempat yang dianggap menarik dan dapat menggal informasi sebanyak mungkin tentang kawasan tersebut.
Setiap pendekatan pada fenomena budaya, selalu diawali dari pandangan dan posisi tertentu. Pembahasan menggunakan pendekatan fenomenologi hanya menunjukan betapa beragamnya pandangan masyarakat pada suatu teks dalam hal ini suatu fenomena tertentu. Peneliti biasanya merupakan bagian dari sistem sosial dimana fenomena itu terjadi atau dapat dilakukan dengan cara observasi secara langsung dan menyelami berbagai hal menganai fenomena tersebut. Penulis selalu memiliki cara pemahaman yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang melatarbelakanginya. (Thwaites, Davis, & Mules, 1994).
Dalam metode fenomonologi, tidak sekedar menceritakan suatu fenomena yang ada, melainkan lebih dari itu yaitu esensi dari sebuah fenomena tersebut. Membangun pola pemikiran dari apa yang dikatakan menjadi apa yang dibicarakan. Tidak menjadikan suatu fenomena menjadi sebuah informasi faktual, melainkan apa yang dapat dimengerti dari informasi-informasi yang didapat dari pendalaman tentang fenomena tersebut. Tidak hanya memberikan definisi umum secara harafiah saja, melainkan lebih dalam dari itu yaitu makna dari sebua definisi sehingga kita dapat mendapatkan arti yang sesungguhnya dari definisi tersebut. (Lindseth & Rn, 2004).
Dalam makalah ini, pendekatan fenomenologi diterapkan pada pembahasan mengenai cerita Telaga Sarangan. Dimana didalmnya tidak hanya membahas mmengenai teks terbentuknya saja, melainkan lebih dalam menggali makna secara esensinya. Makna adanya sebuah telaga bagi masyarakat disekitarnya menurut pemikiran masyarakat Jawa pada umunya, mulai dari pemikiran secara mitis, metafisika hingga perumahan karena arus modernisasi menjadi lebih menuju ke arah positivisme.
Sutiyono menambahkan fenomenologi mencoba memberikan gambaran tentang pengalaman manusia salah satunya jajaran pengalaman manusia dalam kajian budaya, dimana fenomena ini membentuk sebuah konstruksi yang berujung pada akal sehat.  (Sutiyono, 2018). Dengan mencoba terlibat langsung dalam masyarakatnya, peneliti berusaha memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat sekitar telaga dari aspek budaya yang terbentuk dari sebuah cerita mistis terbentuknya Telaga Sarangan hingga membentuk sebuah konstruksi masyarakat sekitar dan perubahan-perubahan pola pikir mereka. Peneliti menggali informasi sebanyak mungkin melalui wawancara, observasi dan studi literasi dari berbagai sumber dan mengkaitkannya dengan fenomena yang ada. Menggali berbagai pemikiran baru dari masyarakatnya, perubahan-perubahan makna dari sebuah telaga yang menjadi tempat penghidupan masyarakat sekitarnya.


 III.            PEMBAHASAN
Pembahasan dalam makalah ini akan mengacu pada pola pemikiran masyarakat Jawa terhadap fenomena Telaga Pasir yang terletak di desa Sarangan, di daerah Magetan Jawa timur. Dimana sepert yang pernah dibahas dan diungkapkan oleh Sutiyono, dalam masyarakat Jawa terdapat tiga tahapan pemikiran manusia yaitu percaya pada kekuatan supranatural/mistis, metafisika, dan tahapan positivisme. (Sutiyono, 1980). Tampaknya dari hasil pemaparannya, tampaknya menarik untuk menggali secara mendalam mengenai perubahan makna dari munculnya fenomena ini dari awal hingga masa kini.
Histori dari terbentuknya Telaga Sarangan dihidupi, diimajinasikan oleh masyarakat dalam narasi-narasi yang menjadi mitos dengan penyebaran secara lisan. Keberadannya menjadi nyata, diyakini dan dipercaya sebagai kebenaran yang mempengarhui seluruh aspek kehidupannya. Masyarakat lama pada masa tahapan pola berpikir supranatural ini percaya adanya Telaga Pasir di Sarangan terbentuk dari sepasang suami istri yaitu Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang berubah menjadi Naga setelah memakan sebuah telur yang ditemukan di hutan, hingga muncul rasa sakit yang luar biasa dalam tubuh mereka hingga berguling-guling di tanah dan akhirnya berubah menjadi Naga raksasa, yang mengakibatkan cekungan besar dan dalam di tanah dengan mata air yang memancar memenuhi cekungan tersebut. Maka terbentuklah sebuah telaga Pasir di lahan tersebut.
Masyarakat percaya pada kisah tersebut, dan berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Keselamatan, perlindungan, berkah, rejeki, hingga kesembuhan bergantung pada sosok naga yang tinggal dalam telaga. Segala gejala alam yang terjadi di daerah tersebut disebabkan oleh kemarahan dari dua sosok naga besar sebagai otoritasnya. Dari literasi yang penulis baca, cerita mengenai terbantuknya Telaga sarangan ini mengalami sedikit bias. Ada beberapa versi yang agak berbeda satu sama lain. Dari hasil wawancara dengan beberapa nara sumber, tidak ada jawaban yang mengarah pada cerita-cerita mitos pembentukannya. Tampaknya mereka tidak antusias untuk menceritakannya bahkan cenderung mengabaikan cerita-cerita tersebut. Wawancara dengan Mas Haeri selaku petugas pintu air menyampaikan bahwa cerita-cerita mitos terbentuknya telaga ini adalah cerita diluar nalar dan tidak dapat diterima akal sehat.
Tampaknya masyarakat sekitar sudah memiliki pola pikir yang berubah, dari kepercayaan terhadap kekuatan supranatural dalam hal ini sosok naga yang mendiami telaga menjadi pola pikir yang lebih rasional. Bahwa terbentuknya Telaga Pasir Sarangan ini terjadi secara alami dari proses alam dengan sumber mata air dari pegunungan Lawu. Sangat jauh berbeda dengan cerita mitos yang beredar dari masyarakat lampau. Hal ini disampaikan oleh Mas haeri bahwa telaga ini merupakan telaga alami dari proses alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah dan tidak ada keterkaitan dengan cerita-cerita mitos.


Fungsi berubah seiring dengan perkembangan masyarakat di sekitar telaga Dua ekor naga raksasa yang dahulu menjadi dewa pemberi keselamatan, yang dipuja dan dipuji masyarakatnya kini menjadi simbol semata. Keberadannya hanya sebatas cerita saja. Masyarakat berkembang seiring kemajuan jaman. Tuntuan ekonomi, perkembangan informasi, teknologi bahkan revolusi industri mempengaruhi pola pikir masyarakatnya. Kepercayaan supranatural yang membuahkan tradisi-tradisi seperti sesembahan, sesaji, pemujaan mulai berubah secara dinamis mengikuti perkembangan jaman. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan oelh Arnold Hauser bahwa tradisi-tradisi memiliki esensi yang tidak menentu, fleksibel dan yang dipengaruhi oleh perubahan individu-individu dalam sebuah komunitas masyarakat tertentu. (Hauser, 1982).
Tampaknya proses penyebarluasan mitos mengenai telaga ini secara lisan telah tergerus arus modernisasi. Dampaknya cerita-cerita mengenai terbentuknya Telaga Pasir di Sarangan ini tidak banyak masyarakat sekitar yang mengetahuinya. Dari hasil wawancara dengan nara sumber lain menyatakan tidak tahu menahu mengenai mitos terbentuknya telaga Pasir di Sarangan ini.
Kini, area Telaga Pasir Sarangan berubah fungsi menjadi destinsi wisata yang menarik. Suasana pegungungan Lawu yang sejuk, beberapa ekor kera masih tampak liar di area pemukiman dan embun yang setiap pagi menyelimuti kawasan ini, membuat daya pikat yang eksotis bagi pada pengunjung dari luar daerah. Suasana asli yang jauh dari dampak polusi kawasan insustri. Ketenangan, kenyamanan dan perasaan menyatu dengan alam seolah membuat otak kembali disegarkan setalah beberapa waktu bekerja keras.
Telaga Sarangan menjadi destinasi wisata yang diminati banyak orang. Kemajuan teknologi membantu eksistensinya. Dari jauh, tanpa harus datang ke lokasi, para wisatawan dapat terlebih dahulu melakukan surfey lokasi guna kegiatan berlibur secara pribadi, privat dengan keluarga, maupun acara pertemuan/ workshop bersama rekan kerja. Penelitian yang dilakukan  Ika Barokah Suryaningsihi, dan Sumani, ternyata kemudahan-kemudahan teknologi sangat membantu minat para wisatawan dari luar Kabupaten Magetan untuk kembali datang ke destinasi wisata ini. beberapa kemudahan yang membantu diantaranya adalah citra tujuan wisata, dan informasi dari  media sosial menibulkan ketertarikan bagi para wisatawan.  Kemudahan informasi yang bersifat finansial juga dapat diperoleh, guna menghitung perkiraan pengeluaran yang dibutuhkan jika berkunjung ke destinasi wisata ini. pengeluaran untuk penginapan, layanan wahana/ jasa yang ditawarkan, aksesoris yang menjadi cirikhas disana, hingga wisata kuliner yang tersedia. (Suryaningsih & Sumani, 2019).
Selain kuliner, beberapa arena/ wahana bermain di area ini antara lain naik Kuda, naik speed boat, yang bertarif rata-rata Rp. 60.000 untuk satu kali keliling telaga yang kurang lebih selama 45 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki dengan santai. Pekerja-pekerja objek wisata tersebut merupakan warga asli sekitar telaga. Hal ini dituturkkan oleh salah satu nara sumber yang merupakan seorang driver speed boat yaitu pak Warijo. Beliau juga menambahkan bahwa ada persaingan antara pedagang dan para tukang kuda dan tukang perahu dengan para penjual. Dahulu para penjual makanan yang berasal dari daerah luar sarangan tidak tertib dan tidak mau diatur, maka warga setempat berinisiatif membuat peraturan untuk tidak boleh berjualan membelakangi telaga. Pada awalnya penulis sempat berpikir ada alasan yang mistis mengenai larangan tersebut, namun Pak Warijo membantah jika adanya alasan mistis dibalik larangan tersebut. Penuturan beliau sangat logis dan masuk akal bahwa larangan tersebut dimaksudkan agar para pedagang tidak menutupi suasana dan pemandangan Telaga Sarangan. Tujuan dari para pengunjung di telaga ini kan untuk melihat indahnya panorama telaga, jangan sampai adanya pedagang yang berada di pinggir-pinggir telaga dengan posisi membelakangi telaga justru akan menghalangi para penunjung sehingga mereka tidak nyaman. Pembicaraan kami mulai asik dan saya rasanya penulis sangat nyaman berada di sekitar telaga tersebut. Pelayanan masyarakatnya yang ramah, keperdulian terhadap kebersihan lingkungan dan semangat gotong royong sangat terasa. Perahu speed boat yang terparkir di salah satu sisi telaga merupakan milik perorangan warga sekitar telaga. Tidak ada seorang yang memonopoli penyediaan speed boat untuk disewa. Semua milik perorangan. Yang artinya bahwa mata pencaharian itu menjadi pokok penghasilan masyarakat sekitar dan tidak ada pihak yang mendominasi bahkan memonopolinya.
.
 Sampai pada kesempatan penulis bertemu dengan Pak warijo yang sangat berpikiran logis, saya sementara berkseimpulan bahwa pola pikir warga sekitar Telaga Sarangan tersebut sudah berubah dari kepercayaan pada hal-hal yang mistis menjadi realis dan rasional. Masyarakat sekitar menurut pemantauan saya sangat terbuka dengan perubahan positif dampak modernisasi. Penyediaan fasilitas WIFI secara geratis di setiap hotel dan penginapan sekitar telaga dan jaringan seluler yang cukup bagus, menandakan bahwa modernisasi sudah berhasil menyentuh daerah tersebut.
Namun perubahan msyarakat dari pemikiran supranatural yang percaya adanya kekuatan dewa dan roh-roh halus menjadi masyarakat yang rasional dan moderinsasi masih dipertanyakan. Pasalnya dari salah satu narasumber menyatakan masyarakat sekitar msih melakukan upacara sesembahan berupa pelarungan sesaji ke dalam telaga. Hal ini diungkapkan oleh ibu Tuksini yang merupakan warga sekitar berprofesi sebagai penjual pecel khas Sarangan. Beliau memaparkan setiap satu tahun sekali yaitu pada bulan ruwah, diadakan upacara larung sesaji berupa tumpeng ke dalam telaga. Ketika ditanya mengenai tujan dilakukan upacara larungan tersebut, beliau menjawab untuk keselamatan dan keamanan masyarakat sekitar. Hal ini senada yang diungkapkan Rini, bahwa dengan melakukan upacara ritual tersebut, masyarakat mengalami ketenangan batin, dan alam tidak akan memberikan bencana. (Rini, 2013). Prosesi ini dilakukan di salah satu titik di sekeliling telaga, yaitu tempat dimana terdapat dua buah pohon besar berlilitkan kain putih, yang diistilahkan dengan Pedhanyangan. Dalam acara ritual ini diselenggarakan juga berbagai macam hiburan daerah seperti Campursari, Reog, festival tari-tarian yang diperagakan oleh anak-anak sekolah. pada moment tersebut akan ramai pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Dalam penelitian budaya yang menggunakan pendekatan subjektif, muncul tafsiran-tafsiran subjektif dari peneliti. (Endraswara, 2006). Sampai pada nara sumber yang ketiga ini, dengan pendekatan penelitian subjektif, peneliti menafsirkan data-data yang terdapat perbedaan yang sangat jauh antara kepercayaan supranatural masyarakatnya dan modernisasi yang terjadi dilapangan. Semula tampaknya masyarakat sekitar telaga sangat rasional, dan sudah tidak percaya lagi dengan hal-hal yang berkaitan dengan roh dan sesuatu yang mistis. Namun mereka masih melakukan ritual larung sesaji ke dalam Telaga Pasir Sarangan guna memperoleh keamanan dan keselamatan masyarakat sekitar. Narasi-narasi tentang legenda yang sudah tertanam pada masyarakatnya, ternyata masih ada dan tidak dapat hilang begitu saja. Pemaparan dinamika perubahan pola pikir masyarakat Jawa dipaparkan pula oleh Pajar Hatma Indra Jaya, bahwa yang menyebabkan peubahan pola pikir masyarakat terhadap narasi-narasi yang dianggap tidak masuk akal adalah pendidikan sebagai agen perubahan. Didalam pendidikan diajarkan tentang rasional, kritis, dan pembuktian logis dari suatu narasi yang dianggap mitis. Namun keberadaan narasi-narasi tersebut tidak dapat hilang begitu saja. (Jaya, 2012).
Selain pendidikan yang berdampak pada perubahan, Agama juga salah satu yang berdampak pada perubahan pola pikir  masyarakat atas fenomena  budaya dan tradisi yang terjadi dan dipercayai. Sutiyono memaparkan tradisi-tradisi yang tercipta dari kepercayaan masyarakat ini bersinggungan dengan pemujaan dan penyembahan terhadap roh-roh selain Tuhan. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran-ajarna Agama. Akibatnya tradisi mendapat justifikasi mengenai halal dan haram dari kelompok sosial keagamaan tertentu. (Sutiyono, 2014). Ini mempengaruhi pola pikir masyarakat secara umum. Tentunya ada masyarakat yang menerima justifikkasi haram dan ada juga yang menerima bahwa tradisi-tradisi itu haram hukumnya.
Pada era sekarang ini tradisi semakin lama semakin hilang terlebih terjadi pada para pemuda/pemudi remaja yang  tergolong dalam GEN- Z, dimana generasi ini lahir setelah tahun 2001.(Walidah, 2017). Generasi ini sangat mahir dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.Tertarik dengan teknologi yang terus maju seiring dengan perkembangan industri yang sekarang ini sudah dalam tahap revolusi industri 4.0.  Dampanya, pola pikirpun berubah. Pemikiran mitis menjadi berbasis teknologi, yang jika dipadukan tidak akan menemui jalan temunya. Teknologipun menguasai berbagai aspek kehidupan, hal ini mengalihkan pemikiran-pemikiran mitis menuju pemikiran yang rasional, dan penggunaan teknologi guna menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan.
Terkhusus bagi para GEN- Z, yang masih berada pada tingkat usia pelajar, usaha pemerintah Kabupaten Magetan, dalam usaha pelestaraian budaya lokal yaitu dengan upaya kegiatan literasi disekolah melalui bahasa Jawa yang memuat cerita-cerita rakyat berkonten lokal yang ada di daerah Magetan, dan harapannya mereka semakin cinta terhadap budaya sendiri dan ikut melestarikannya. (Fitriani & Samsiyah, 2018).
 IV.            KESIMPULAN
Kekayaan alam Indonesai sudah diakui banyak dunia. Itu menjadi salah satu alasan beberapa penjajah dan pedagang datang ke negeri ini. pemandangan alam yang elok, tak tertandingi dan dimanapu tidak ada negeri yang seindah Indonesia. kekayaan-budaya dan tradisi yang ada dialamnya juga menjadi salah satu unsur ketertarikan bangasa pendatang ke Indonesia. Nilai-nilai dalam narasi cerita/ legenda asal usul terbentuknya tempat-tempat eksoitik di Indonesia tak terkira jumahnya. Setiap tempat memiliki kisah mitos yang berjalan beriringan dengan makna harafiah dari tempat tersebut.
Telaga Pasir sarangan salah satunya. Tempat yang kini menjadi destinasi wisata ini memiliki cerita mitis yang mengagumkan diluar akal pikiran dalam pola pikir masyarakat saat ini. namun pada masa itu, narasi cerita awal mula terbentuknya telaga nan eksotis ini menjadi sebuah kebenaran bagi masyarakatnya. Narasi-narasi ini membentuk tradisi-tradisi unik yang ternyata hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat. Masuknya modernisasi di daerah ini, tidak pernah membuat tradisi awal menjadi hilang. Masyarakat tetap memiliki pola pikir semakin maju, namun disisi lain kepercayaan terhadap kekuatan magis dari Telaga Sarangan masih sangat terlihat. Dua hal yang bertolak belakang berjalan beriringan. Hal ini difasilitasi oleh pemerintah daerah setempat, pada prosesi upacara larung sesaji di telaga. Untuk prosesi sakralnya, diserahkan sepenuhnya pada masyarakat Sarangan, sedangkan hiburan rakyat, sepenuhnya difasilitasi oleh pemerintah Kabupaten Magetan. Mitos narasi dua naga yang menghuni di dalam telaga masih dipertahankan dalam sebuah simbol yang ada di slaah satu sisi telaga disamping pintu masuknya. Dua sosok naga yang mengapit sebuah gunungan, sebagai simbol hidupnya narasi yang dahulu kebenarannya dianggap nyata.
Kemajuan jaman tidak membuat masyarakat melepaskan apa yang manjadi identitas secara historis dengan aspek mitisnya. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dalam hal pelestarian budaya. Satu penelitian dari Alexander Setiawan, Andreas Handojo, dan Rendra Hadi mendukung hal ini dengan menciptakan aplikasi berbasis android dalam mempelajari berbagai macam kebudayaan yang ada di Indonesia sepserti nama suku, rumah adat, lagu daerah, bahasa daerah makanan tradisional hingga alat musik dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. (Setiawan, Handojo, & Hadi, 2017). Hal ini menunjukan generasi muda yang masih peduli dengan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.


    V.            DAFTAR PUSTAKA
Endraswara, S. (2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan Ideologi, Epistimologi dan Aplikasi (1st ed.). Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Fitriani, W. A. C., & Samsiyah, N. (2018). Local Culture through Javanese Language Literacy as a Learning Resource at Magetan District Primary. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 280, 581–585.
Hauser, A. (1982). The Sociology of Art. London: Routledge & Kegan Paul Ltd.
Jaya, P. H. I. (2012). DINAMIKA POLA PIKIR ORANG JAWA DITENGAH ARUS MODERNISASI. Humaniora, 24(2), 133–140.
Lindseth, A., & Rn, A. N. (2004). A phenomenological hermeneutical method for researching lived experience. Nordic College of Caring Sciences, Scand J Caring Sci, 18, 145–153.
Nurmayasari, N. (2017). Seri Pengenalan Budaya Nusantara: LEGENDA TELAGA SARANGAN. (Y. Sinubulan, Ed.) (1st ed.). Ja: Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pradoko, S. (2018). SEMIOTIKA GUNA PENELITIAN OBJEK KEBUDAYAAN MATERIAL SENI. FBS UNY, 1–20.
Rini, R. S. (2013). Labuhan Sarangan (Kajian Etnografi Upacara Labuhan Sarangan Di Telaga Sarangan, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan). Universitas Airlangga.
Setiawan, A., Handojo, A., & Hadi, R. (2017). Indonesian Culture Learning Application based on Android. International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE), 7(1), 526–535. https://doi.org/10.11591/ijece.v7i1.pp526-535
Sumardjo, J. (2000). Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB.
Suryaningsih, I. B., & Sumani. (2019). THE INFLUENCE OF FINANCIAL LITERACY , THE IMAGE OF DESTINATION , THE SOCIAL MEDIA AGAINST THE INTEREST OF VISITING LOCAL TOURISTS. European Journal of Management and Marketing Studies, 3(2016), 1–18. https://doi.org/10.5281/zenodo.2542742
Sutiyono. (1980). Alam pikiran dalam masyarakat budaya jawa. FBS UNY, 1–11.
Sutiyono. (2014). SENI TRADISI DI INDONESIA DAN FENOMENA HARAM-HALAL. Imaji, 12, 1–7.
Sutiyono, S. (2018). Phenomenological Approach in Traditional Theater Art. International Journal of Art and Art History, 6(2), 17–21. https://doi.org/10.15640/ijaah.v6n2p3
Thwaites, T., Davis, L., & Mules, W. (1994). TOOLS FOR CULTURAL STUDIES AN INTRODUCTION. South Melbourne: Macmilian Education.
Walidah, I. Al. (2017). Tabayyun di era generasi millennial. Living Hadis, 2, 317–344.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Seni?

Materi PAS dan soal kelas XII

REVIEW BUKU TEACH LIKE FINLAND