“Guyon?.... Waton!”


Kasus Viral Guru Kendal (Opini)
Ardhi Kurniawan

 “Guyon?.... Waton!”
Fenomena pendidikan kembali muncul di sebuah SMK di Kendal, seorang Guru dan beberapa siswa terlibat sebuah peristiwa yang tidak pantas. Dimana seorang guru tampak didorong, seolah dikeroyok dan dibuli oleh beberapa siswa. Beberapa siswa pun tampak senang melakukannya, dan Guru pun bereaksi terhadap mereka. Apakah itu “Guyonan”?
Pendidikan karakter sedang dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Di dalam silabus, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) tampak nilai-nilai karakter yang dikembangkan. Artinya di dalam persiapan guru sebelum mengajar, langkah-langkah termasuk penekanan karakter dalam pembelajaran sudah terencana. Masih tergolong wajar ketika kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan RPP yang dibuat. Namun yang terjadi di SMK Kendal tersebut, sudah diluar batas kewajaran.
Anak di era sekarang ini, banyak yang tidak memiliki figur otoritas dalam kehidupan mereka. Figur otoritas yang dimaksud adalah sosok yang menguasai, berdaulat atas mereka, termasuk memenuhi apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan. Bukan otoriter, tetapi paling tidak ada sosok yang disegani sehingga anak punya figur yang mengontrol, mengawasi dan mengendalikan emosi/ego (negatif) mereka. Yang banyak terjadi pada anak adalah mereka terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang mereka butuhkan.
Figur otoritas di lingkungan sekolah adalah Guru. Guru harus sadar bahwa mereka memiliki otoritas penuh terhadap siswa di lingkungan sekolah. Artinya tingkah laku, dan tindakan siswa didalam maupun diluar kelas, gurulah yang mengendalikannya. Namun bukan menjadi sosok yang otoriter pada siswa. Siswa harus punya sosok yang mengendalikan, mengarahkan, menasehati, dan akhirnya dapat menjadi contoh bagi mereka. Dampaknya siswa menjadi segan, menghargai, mendengarkan, hingga menerima semua masukan. Transfer ilmu pengetahuan pun dapat terjadi dengan lancar. Namun jika terjadi sebaliknya, Guru yang kurang menguasai siswa, justru akan dikendalikan siswa untuk memenuhi apa yang mereka inginkan. Ini sangat berbahaya karena apa yang mereka inginkan belum tentu baik bagi mereka. “Guyonan” sebagai sarana mendekatkan diri pada siswa, sangat baik. Karena dengan siswa dekat dengan Guru, kekosongan dalam diri siswa yang tidak didapatkan di lingkungan rumah, guru dapat mengisinya. Setidaknya memahami siswa dan memberikan solusi yang terbaik baginya. Guru harusnya sebagai sosok yang di “Gugu dan ditiru”.
Figur otoritas yang paling penting adalah orang tua. Di rumah, orang tua sebagai figur otoritas anak. Bukan menjadi orang tua yang otoriter, namun orang tua memposisikan diri sebagai sosok yang berkuasa atas anak. Mengontrol, mengawasi, memperhatikan dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan anak menjadi kewajiban yang harus dilakukan orang tua. Namun kerap terjadi orang tua yang justru memenuhi apa yang diinginkan anak tanpa menimbang dengan bijak baik dan buruknya. Tidak menuruti keinginan dan membiarkan anak menangis/ marah, bahkan kecewa dengan orang tua terkadang diperlukan. Meskipun hati orang tua tidak tega. Namun ini penting dilakukan supaya anak sadar bahwa orang tua menjadi kontrol dan mereka memiliki figur otoritas yang setidaknya mereka segani dan hargai.
Jika kedua figur ini tidak dimiliki anak, dampaknya mereka tidak dapat diarahkan, dikendalikan dan cenderung melakukan apa yang mereka sukai. Anak di masa remaja cenderung melakukan hal yang bersifat coba-coba, rame-rame dan memiliki solidaritas yang baik dengan teman sebayanya. Namun jika ini tidak dikendalikan, hal-hal yang mereka lakukan diluar batas kewajaran bahkan mengarah ke hal yang negatif. Guru dan orang tua adalah sosok ayang mengontrol anak pada perannya masing-masing. Sinergitas guru dan orang tua akan sangat membantu mengontrol ego siswa dan mengarahkan mereka pada hal-hal yang positif.
Menjelang peringatan hari guru, marilah kita (guru) menjadi guru yang berdedikasi, melayani siswa, dekat dengan siswa, dan melihat lebih dalam apa yang mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan. Terus mengembangkan diri di bidang akademik dan profesional, termasuk bagaimana managemen kelas dan memahami karakteristik siswa. Bagi para orang tua, mari bekerjasama dengan sekolah,dan guru untuk memikirkan masa depan anak-anak. Jangan hanya memasrahkan anak sepenuhnya kepada sekolah, karena sekolah bukan bengkel reparasi, datang rusak, pulang sudah beres. Orang tua justru menjadi lingkungan pertama yang paling berpengaruh terhadap anak. Belajar bijak tentang kebutuhan anak, terlebih dalam melihat dan memahami karakteristik anak, karena kita adalah figur otoritas yang berdampak penuh atas masa depan mereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Seni?

Materi PAS dan soal kelas XII

REVIEW BUKU TEACH LIKE FINLAND